AIR MATA ANGSA

maxresdefault (1)

 

Seekor angsa yang merindu terbang

Dilayang angin, dimanja angkasa

Mengintai mangsa, lalu menikamnya

Mati terkapar, dihabisilah ia

 

Elok nian bulunya

Terngiang-ngiang di kepala

Tersipu hingga keras bulukuduk ini

Tiada sumbing, tiada cabik

 

Hingga datang pemburu

Dari makhluk yang mengaku paling waras

Perikemanusiaan gincu di bibirnya

Namun tabir nurani sirna dihempas pundi-pundi rupiah

 

Ranumnya bunga mendadak layu

Suatu yang tak nampak namun dipuja

Bukan lagi menyejukkan, bahkan tiada

Membuat sekeliling terdiam, bahkan jangkrik pun menahan pedih

 

Angsa itu tertembak

Tepat di jantungnya

Tergopoh-gopoh ia dibopong

Segera, ia yang dihabisi

 

Terkuliti, dipaksa melepaskan mahkotanya

Demi sesuap nasi para pemburu itu

Sungguh bukan sesuap! Bukan pula nasi!

Sebakul, kalau perlu berjuta-juta bakul uang didapatnya

 

Sayapmu memang tak bisa menerbangkanmu

Sayapmu membuatmu diremehkan

Kau tak seperti keluargamu yang lain

Bukan elang, pula rajawali!

 

“kau hanya angsa!”, kata si pemburu itu

 

Keji, mengucurlah airmata sederas hujan di musim kemarau

Hina, begitu yang terasa. Sampai-sampai madu hambar rasanya

Bahkan sayatan goresan kaca tak sanggup memotong nadinya

Sudah ditembak, terhinakan pula

 

Angsa itu pun mati perlahan

Malaikat pencabut nyawa sempat tak mau datang

Ia mengadu pada Tuhan

Ia marah, tak terima mendapat tugas satu ini

 

Apa mau dikata

Cabut, sudah ketetapan-Nya

Lepaslah nyawa, penuh kesedihan

Malaikat pencabut nyawa gemetar, sembari menahan derasnya airmata

 

Pantas saja malam tadi serasa gempa

Atau aku yang terlalu mengantuk

Rupanya benar dugaanku

Ada sesuatu terjadi di dunia lain

 

Angsa itu pun pasrah nyawanya dilepas paksa

Karena kerakusan pemburu

Berjalan mati, surga menunggu

Akhirnya ia merasakan nikmatnya terbang, walau ke dunia lain

 

Angsa itu mati, sungguh

Kulitnya dibawa pulang

Menghasilkan banyak uang

Keindahannya siapa yang mendustakan?

 

Kasihan, iba, hiabatnya rindingan ini

Bukan lagi gugur bunga

Jikalau tumpahnya kesedihan tak seindah bunga

Angsa itu pergi, tapi tidak dengan angannya

 

Cantik raganya, tersayat hatinya

Elok rupanya, hancur angannya

Rupawan bulunya, senapan ancamannya

Terbang tak bisa, peluru menembus kulitnya

 

Mungkin saja angsa itu engkau

Atau malah aku

Angan yang tak kunjung tiba

Malah diburu dan terhina

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

REHABILITASI MENTAL DALAM LEMBAGA KEMAHASISWAAN

 

Oleh:

Aslama Nanda Rizal

(Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada 2013)

 

Lembaga mahasiswa di Indonesia beragam menurut masing-masing perguruan tinggi. Dari tingkat mahasiswa jurusan, biasanya kita mengenal Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dengan namanya masing-masing. Di tingkat Fakultas, biasanya juga kita mengenal Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM) Fakultas, dengan namanya masing-masing. Fakultas Ilmu Budaya, misalnya. Menggunakan nama Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM).

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Fakultas Hukum UGM misalnya, menggunakan nama Dewan Mahasiwa (DEMA). Di tingkat Universitas, menggunakan nama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiwa (KM) UGM. Contoh tersebut adalah contoh lembaga eksekutif. Lain halnya dengan lembaga legislatif. Di UGM, lembaga legislatif tingkat fakultas ada yang memakai nama Dewan Perwakilan Mahasiwa, Majelis Mahasiswa, maupun Senat Mahasiswa Fakultas. Di tingkat Universitas sendiri, menggunakan Senat Mahasiswa (SM) KM UGM.

Di Universitas lain pun beragam. Lembaga eksekutifnya ada yang memakai nama BEM, BEM KM, BEM REMA (Republik Mahasiswa), dan lain-lain. Lembaga legislatifnya, ada yang memakai nama Senat Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), maupun Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM), dan lain-lain. Perbedaan tersebut tergantung masing-masing Universitas dalam mengelola lembaga mahasiswanya.

Selain itu, lembaga kemahasiswaan terdiri dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun Badan Semi Otonom (BSO). UKM ataupun BSO adalah lembaga kemahasiswaan yang bergerak di bidang minat dan bakat mahasiswa. Lembaga ini tidak mengurusi pemerintahan. UKM ataupun BSO biasanya terdiri dari yang bergerak di bidang olahraga, musik, seni dan budaya, teater, penalaran / penelitian, dan sosial masyarakat.

Marilah kita bertanya, apakah dampak dari pembelajaran tersebut bagi mahasiswa? Saat ini, banyak yang meragukan dan skeptis terhadap lembaga mahasiswa intra kampus tersebut. Seharusnya, lembaga kemahasiswaan tersebut menjadi corong dari pergerakan mahasiswa di Universitas. Namun realitanya, justru pergerakan tersebut melempem. Ada beberapa faktor yang menyebabkan gerakan mahasiswa intra kampus melempem dan tidak Progresif-Revolusioner. Diantaranya ialah, dua kerusakan mental mahasiswa sebagai berikut:

  1. Mental Event Organizer

Menurut saya, ini yang merasuki mental mahasiswa saat ini. Mental EO. Sepakat ataupun tidak, saya merasakannya demikian. Lembaga kemahasiswaan terlalu banyak mengadakan berbagai event untuk hura-hura dan kesenangan mahasiswa itu sendiri. Ini yang paling banyak terjadi kini. Contohnya, di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Lihat saja jadwal kegiatan berbagai lembaga mahasiswa (LEM, HMJ, maupun BSO).

Sangat padat sekali. Event sangat digemari kebanyakan mahasiswa saat ini, sebab menyuguhkan berbagai tontonan maupun kegiatan yang asyik. Namun kekurangannya, kebanyakan event malah menjauhkan mahasiswa dari masyarakat dan pergerakan mahasiswa itu sendiri. Dan menurut saya yang paling menyebalkan adalah, terlalu banyaknya acara ‘band-band-an’. Saya juga menyukai musik, seni dan budaya. Namun, terlalu banyak acara demikian akan membodohkan mahasiswa, sadar ataupun tidak sadar.

Terlalu banyak event juga sangat mengurangi kegiatan mahasiswa di bidang pengkajian dan pergerakan mahasiswa. Suka ataupun tidak, yang terjadi saat ini ialah selain event panggung hiburan, juga event malam keakraban (makrab). Acara yang satu itu hingga kini masih menjadi tradisi yang menguras tenaga dan pikiran yang sebenarnya jika kita kaji dengan hati yang bersih, adalah sangat tidak penting. Mengapa? Karena biasanya masih terjadi berbagai perpeloncoan dan makrab adalah tonggak awal senioritas di kampus. Marilah kita berpikir, tidak mungkin dalam waktu 2-3 hari makrab kita akan langsung akrab. Tidak. Menjadi akrab adalah proses panjang, tidak bisa ditentukan dalam waktu singkat.

  1. Mental Membebek pada Birokrasi dan Korporasi

Ini yang paling bahaya, menurut saya. Mahasiswa kini, sadar atau tidak sadar, terbiasa membebek pada birokrasi dan korporasi. Hal ini menyambung dari poin sebelumnya, mental event. Sebab, dengan banyaknya event akan semakin banyak proposal yang dibuat untuk diberikan kepada Birokrasi (pihak Jurusan, Fakultas, Universitas, Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten / Kota, hingga Pemerintah Propinsi).

Hal tersebut bertujuan satu, memperlancar izin penyelenggaraan event dan mencari dana. Sedikit-sedikit, buat proposal. Sedikit-sedikit, minta dana. Mahasiswa jadi terbiasa mengemis, mengembik, dan membebek, tidak BERDIKARI (Berdiri Di Atas Kaki Sendiri). Konsekuensinya, mahasiswa semakin terkikis rasa kritisnya terhadap para pemegang kebijakan tersebut. Dari tingkat Jurusan, hingga Pemerintah. Sebab, sudah diberi dana. Disuapi. Dimanjakan. Jika macam-macam apalagi sampai demonstrasi, habis sudah mahasiswa.

Berikutnya adalah membebek pada korporasi. Sama seperti pada birokrasi, kebanyakan mahasiswa kini membebek pada korporasi. Sedikit-sedikit buat proposal. Sedikit-sedikit, minta dana ke korporasi. Alasannya, korporasi menjadi sponsorship bagi event tersebut. Sangat sering kita melihat berbagai event mahasiswa, terdapat berbagai korporasi berjualan di sana. Sebagai sponsor, hal tersebut adalah lumrah. Hal tersebut membuat mahasiswa berada di bawah ketiak korporasi. Dampaknya adalah, mahasiswa juga semakin terkikis rasa kritisnya terhadap korporasi penindas rakyat. Mahasiswa kini jarang yang sangat kritis. Jika ada, biasanya dianggap Komunis. Jangankan tingkat HMJ, BEM Universitas pun seperti itu.

 

REHABILITASI MENTAL

Jika ditanya, “relevankah lembaga kemahasiswaan saat ini?”, menurut saya masih tetap relevan. Lembaga mahasiswa adalah sarana terbaik sebagai pembelajaran mahasiswa untuk berorganisasi, berpolitik, dan mengembangkan minat dan bakat. Namun ada kerusakan mental yang parah dalam mental mahasiswa saat ini, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Menurut saya, pergerakan mahasiswa intra kampus adalah bullshit. Jargo-jargon. “Hidup Mahasiswa Indonesia!” yang biasa dikoarkan BEM maupun lembaga mahasiswa intra kampus lainnya, adalah hipokrit jika melihat kelakuan lembaga tersebut yang membebek pada Birokrasi (khususnya Rektorat), dan kepada korporasi.

Lalu, apakah solusinya? Rehabilitasi mental mahasiswa. Rehabilitasi tersebut haruslah menyembuhkan mental patron-client dalam diri kebanyakan mahasiswa saat ini. Siapakah yang merehabilitasi? Ya kita, sebagai mahasiswa yang sadar akan hal tersebut. Kita, haruslah menjadi dokter bagi teman-teman kita sesama mahasiswa yang terkena kerusakan mental tersebut. Bukan menganggap kita lebih baik, tidak. Tapi kita lebih sadar. Sehingga perlu menyadarkan teman-teman kita. Misalnya, anda yang membaca opini ini, tergugah hatinya, semoga cepat sembuh. Dan bergabunglah dengan barisan perjuangan ini, dengan membantu menyembuhkan mental teman anda yang masih rusak.

Misalnya, anda yang membaca opini ini adalah anggota atau bahkan ketua lembaga mahasiswa, segeralah sadar bahwa anda harus berani membawa lembaga kemahasiswaan menjadi garda terdepan melawan kebijakan Rektorat, jika ada yang merugikan mahasiswa. Khususnya BEM dan Senat / DPM, sebagai representasi dan perwakilan mahasiswa. BEM dan Senat / DPM harus memposisikan dirinya secara mutlak sebagai oposisi Rektorat / Dekanat (jika BEM Fakultas). Jangan takut jika tidak diberi fasilitas kampus. Hiduplah secara mandiri, bergeraklah untuk rakyat. Dengarkan apa kata rakyat. Bukan kata Dekanat maupun Rektorat.

Lembaga mahasiswa di tingkat bawahnya seperti HMJ, maupun lembaga mahasiswa di bidang minat dan bakat (UKM dan BSO), tidak boleh hanya memikirkan kesenangan pribadi semata. Tidak boleh sekedar membuat acara bersenang-senang semata bagi para anggotanya. Ilmu untuk rakyat. Seni dan sastra untuk rakyat. Event untuk rakyat. Maksud rakyat di sini adalah kaum Marhaen (rakyat kecil). Perkuat advokasi kepada kaum Marhaen yang ditindas kebijakan penguasa. Itulah tugas utama lembaga kemahasiswaan. Selalu ingat, pesan Bung Karno:

“Hilangkan steriliteit (kesterilan dengan rakyat) dalam gerakan mahasiswa!”

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

MBUH, IKI AREP DIKEI JUDUL OPO (ENTAH, INI AKAN DIBERI JUDUL APA)

 

“BEM KM gak punya taring”, “BEM KM antek Rektorat”, “BEM KM mandul”, dan sebagainya, beberapa kali terdengar oleh kedua telinga saya. Ada dua perasaan yang menghantam saya punya sanubari. Pertama, ada benarnya ungkapan demikian. Apa sebab? Ya, mohon maaf yang sedalam-dalamnya. BEM KM UGM tahun ini (saya tidak berani mengkomentari kepengurusan sebelumnya sebab saya belum masuk ke sana saat itu), ya seolah tak bertaring. Tapi, sebelumnya mari kita pertanyakan. Taring dalam arti apa? Sebab, banyak program kerja yang terlaksana. Jika kalian mempertanyakan apa saja program setiap Kementerian BEM KM UGM 2015, banyak sekali. Jika kalian mempertanyakan apa saja kinerja BEM KM UGM 2015, jawabannya adalah banyak sekali yang telah dikerjakan. Kalian saja yang menutup mata dengan hal itu.

Namun menurut saya, taring yang dimaksud adalah taring Gerakan Mahasiswa dalam tubuh BEM KM UGM 2015. Lebih khusus lagi, dalam berhadapan dengan Rektorat UGM. Mungkin sejak rezim sebelumnya, BEM KM UGM tidak berani untuk mengambil posisi sebagai OPOSISI MUTLAK dari Rektorat UGM. Ini yang membuat saya miris. Kedua, terhadap orang-orang atau kelompok yang mencaci BEM KM UGM demikian saya pun merasa miris. Apa sebab? Biasanya yang mengatakan demikian adalah bukan orang dalam BEM KM UGM. Biasanya beda organisasi. Mafhum, sebab BEM KM UGM adalah representasi Mahasiswa UGM. Jika berbuat salah sedikit saja, banyak pihak yang mencerca. Dilematis sekali bukan?

Bukan, bukan cacian terhadap BEM KM UGM yang saya lakukan di sini. Tapi saya hanya ingin menumpahkan apa yang ada dalam benak saya mengenai Azas, Azas Perjuangan, dan Taktik. Dalam buku DI BAWAH BENDERA REVOLUSI jilid 1 bab “Azas, Azas Perdjoangan, dan Taktik”, Bung Karno membedah ketiganya. Menurut saya yang masih anak ingusan, BEM KM UGM harus memiliki ketiganya. Tulisan Bung Karno tersebut sangat tepat menurut saya untuk dijadikan Azas, Azas Perjuangan, dan Taktik bagi BEM KM UGM kepengurusan berikutnya. Inti dari tulisan Bung Karno tersebut adalah Azas adalah suatu prinsip yang tidak boleh ditawar-tawar. Jelas dalam hal ini Bung Karno mengatakan bahwa Azas untuk kita adalah Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi, atau Kebangsaan dan Kemarhaenan. Sosio-Nasionalisme singkatnya adalah paham Nasionalisme Indonesia yang bertujuan untuk menyelamatkan kaum Marhaen. Siapa itu kaum Marhaen? Kaum yang dimiskinkan oleh sistem. Feodalisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Imperialisme. Sosio-Demokrasi singkatnya adalah paham Demokrasi atau Pemerintahan Rakyat yang bertujuan untuk menyelamatkan kaum Marhaen. Demokrasi yang tidak hanya secara politik (coblos mencoblos. Pemilu, Pemilukada, Pemiluwa, Pemira, dan lain-lain), tapi juga secara ekonomi. Untuk menciptakan Demokrasi Sosial sesuai Sila ke-5 Pancasila. Sosialisme Indonesia, atau Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Itulah Azas, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Menurut saya, untuk membuat BEM KM UGM lebih “garang” dan bertaring, harus menggunakan Azas demikian.

Azas Perjuangan singkatnya adalah sifat dari perjuangan tersebut. Dalam hal ini, Bung Karno mengatakan bahwa Azas Perjuangan untuk kita seharusnya adalah Non-Kooperatif (menolak kerjasama), Massa Aksi, dan lain-lain. Azas Perjuangan digunakan selama kita berjuang. Artinya, ketika tujuan perjuangan telah tercapai, Azas Perjuangan tidak diperlukan lagi. Tapi Azas, hingga “lebur kiamat” harus kita pegang teguh. Jika dahulu, Bung Karno menggunakan Azas Perjuangan tersebut untuk melawan Pemerintah Kolonial, maka BEM KM UGM kini harus menggunakannya untuk melawan –atau setidaknya bersikap- Non-Kooperatif terhadap Rektorat sebagai Si “Mpunya” kebijakan. Terakhir, adalah Taktik. Menurut Bung Karno dan menurut saya juga, taktik bisa berubah kapanpun. Taktik harus banyak, harus punya alternatif. Namun taktik tidak boleh mengkhianati Azas Perjuangan, apalagi Azas.

Lantas, apa inti dari tulisan ini? Sederhana saja, hanya sebuah harapan. Bukan penghakiman terhadap BEM KM UGM 2015, tapi harapan bagi kepengurusan BEM KM UGM 2016. Siapapun yang menjadi Presiden Mahasiswa UGM. Saya sangat berharap sekali, bahkan riang gembira, jika BEM KM UGM 2016 mengambil posisi TEGAS menjadi OPOSISI MUTLAK terhadap Rektorat. Sebentar, sebentar. Jangan emosi dulu. Baca tulisan abal-abal ini hingga selesai. Jika sakit kepala berlanjut, hubungi Dokter. Jangan hubungi saya, sebab saya pun terus sakit kepala, melihat kondisi negeriku saat ini.

Pertama, BEM KM UGM 2016 harus memiliki Azas, Azas Perjuangan, dan Taktik. Selama ini BEM KM UGM selalu mengaku ataupun diakui sebagai Gerakan Mahasiswa Intra Kampus. Pasti akan marah tho, jika disebut sebagai UKM Politik? Jika marah, maka segeralah cetuskan apa Azas BEM KM UGM. Ya, jelas. Menurut saya haruslah Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Jika tidak mengerti, hubungi saya. Mari kita diskusi sambil ngopi. Kalau pusing, abis diskusi kita main PES. Tapi sayang, PC Sekre sekarang gak boleh dipake lagi buat “Nge-PES”. Lantas, apa Azas Perjuangannya? JELAS. Beranikan diri sebagai BEM KM UGM yang katanya Gerakan Mahasiswa itu, untuk mengambil posisi sebagai OPOSISI MUTLAK terhadap Rektorat. Oposisi tidak bermakna bermusuhan, tidak bermakna ofensif. Sempit sekali otakmu jika menganggap demikian. Oposisi berarti berada di posisi sebaliknya dari pihak yang dihadapkan, dalam hal ini Rektorat UGM. Jika Kebijakan Rektorat UGM baik, jangan didukung, Diamkan saja. Sebab memamg kewajiban mereka menetapkan kebijakan demikian. Jika kebijakannya ngawur. Segera konsolidasi. Hantam Rata! Bukan dengan kekerasan. Nah, disitulah dibutuhkan taktik. Bolak-balik berdiskusi maupun negoisasi dengan Rektorat bukan berarti melemahkan nyali, atau mengkhianati Azas dan Azas Perjuangan. Negoisasi adalah kunci, di titik itu. Tekan terus pihak Rektorat “mbuh piye carane” agar mau membatalkan kebijakan tersebut. Jika gagal, ataupun sebelum gagal, ditambah dengan Aksi Demonstrasi. Depan halaman kantor Rektorat, biar joss.

Demonstrasi katanya udah gak jaman, gak efektif. Ah, kata siapa? Demonstrasi memang bukan segalanya. Tapi dalam Perjuangan di alam Demokratis ini, Demokrasi adalah Bumbu dari sebuah masakan. Jika tidak ada, hambar. Pahit. Tidak bergairah untuk dimakan. Bumbu memang bukan segalanya, tapi masakan perlu bumbu. Begitu juga dengan Aksi. Ada Negoisasi, Lobi, Audiensi, dan juga Demonstrasi. Selama ini penyakit kebanyakan Mahasiswa UGM adalah alergi (gatal-gatal) dengan Demonstrasi. “Demo itu kayak anak kampung. Kita UGM, bukan kampus sebelah. Beda dengan kampus lain. Buktikan dulu kualitasmu dengan Prestasi. Harumkan nama kampusmu. Jangan malah serang kampus sendiri’. Begitulah kata Mahasiswa elitis. Begitu juga kata Rektorat yang tidak mau diganggu kenyamanannya. Begitu juga kata Mama di rumah.

Panjang banget, ya? Baru 3 halaman di Ms. Word ini. Ingin saya lanjutkan, tapi sudah ngantuk. Lanjut diskusi langsung aja, yuk?

 

Salam Cinta,

Pemuda Kurus Kerempeng yang Menjadi Buruh di Kampus Sendiri, Buruh Ilmu.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

TITANIC DALAM PERSPEKTIF MARXISME

 Oleh:

Aslama Nanda Rizal

Cari saja saya di pojokkan kelas, pasti saya sedang tertidur pulas

Siapa yang nggak tau film TITANIC? Iya, yang ada adegan dilukis telanjangnya itu. Mulai rilis sejak akhir abad 20, alias akhir 1990-an, TITANIC menjadi salah satu film terbesar dan terpopuler di dunia. Mari kita bernostalgia, saat kita kecil, TITANIC menjadi film yang sangat terkenal. Bahkan saya, sampe rela diem-diem nonton tv malem-malem untuk menontonnya sampe abis. Diem-diem, takut diomelin mamah soalnya besoknya sekolah. TITANIC juga film dewasa, bukan film anak-anak. Harusnya dilaporin ke KPI tuh, merusak moral. Bukan, bukan. Saya bukan anggota FPI.

Tapi entah mengapa, nggak ada bosennya nonton film yang satu itu. Eh tapi ini apa saya saja yang “baper” sejak kecil, atau memang film tersebut lagi nge-trend. Sampe sekarang, TITANIC masih sering ditayangin di beberapa stasiun tv. Biasanya, dibagi menjadi dua hari. Sebab durasinya lama. Jadi ada “bersambung”-nya gitu. Nggak, nggak ribuan episode, apalagi banyak seri 1,2,3,4,5 kayak Tersanjung, Cinta Fitri, atau bahkan gak banyak seri tapi gak abis-abis kayak Tukang Bubur Naik Haji.

Kebanyakan dari kita taunya TITANIC itu film cinta-cintaan antara Rose si Bangsawan dengan Jack si Anak Gembel, Marhaen, Kaum Marjinal, “Ndeso”. Ndeso aja gantengnya begitu (Leonardo Di Caprio), mirip saya. Nggak perlu lah saya jelasin cerita film tersebut kayak apa, nanti kalian baper. Nangis sesegukan, ataupun terdiam dengan airmata yang mengalir. Tisu mana tisu? Intinya, cinta mereka bersemi di atas kapal. Ciye, f*ck.

Jack bersama temannya (Fabrizio. Inget nggak? Yang orang Italia itu. Ah elu ingetnya lukisan sama berhubungan intim pas di dalem mobil aja sih. Dasar Viktor. Vikiran Kotor), bisa naik kapal TITANIC yang notabenenya kapal Borjuis, Bangsawan, Priyayi, Kapal mewah di zamannya, karena menang judi. Mungkin karena banyak maksiatnya (judi si Jack & Fabrizio, lukisan esek-esek Rose di kamar, dan begitu-begituan Jack dan Rose di dalam mobil), jadi TITANIC tenggelam.

Tapi sadar nggak sih? Film TITANIC ini bisa menjadi bahan kajian sosial yang menarik. Bagi yang belajar tentang sosio-humaniora (sosial, politik, ekonomi, filsafat, sejarah, dan lain-lain) seharusnya lebih peka terhadap kondisi riil yang terjadi. Harus peka. Sekali lagi, peka! Ya, termasuk kalau nonton film. Gak serta merta yang seru bokep aja yang diingat, tapi kita harus jeli menganalisa film tersebut dengan cermat. Dalam film TITANIC ini mengenai pertentangan antar kelas. Marx. Ya, Kyai berjenggot lebat itu, telah membuat teori dan analisis begitu mendalam tentang kapitalisme dan pertentangan kelas dalam bukunya, Das Kapital. Tapi, teori tersebut terpatahkan dalam film TITANIC.

Hanya ada satu hal yang bisa menyatukan kaum kelas atas dan kelas bawah. Apa itu? CINTA. C-I-N-T-A. Sekali lagi………………………….

Cinta.

Jack dan Rose menjadi bukti akan hal itu. Jack si anak kampung, dengan jiwa anak kampung tersebut mampu mengajarkan Rose akan arti kehidupan. Buktinya, Jack mengajak Rose ke tempat hiburan rakyat kelas bawah (nari-nari tradisional dengan alunan music dan gebukan gendang yang cepat dan keras), bandingin saat Rose bersama tunangannya, si Borjusi-Kapitalis-Bangsawan itu bersama kaumnya, kelas atas. Gayanya selangit. Pakaiannya sangat rapi, etika dijunjung tinggi. Dan lain-lain. Namun, jiwa anak kampung tersebut mampu meluluhkan hati Rose. So Sweet.

Karena ini bukan makalah, paper, jurnal, atau bahkan skripsi, hanya celotehan semata, Jadi maaf kalau sangat singkat saya menjelaskannya. Jika penasaran berlanjut, hubungi dokter. Ya, ya. Berikutnya adalah dalam film TITANIC, nampak sekali pertentangan kelas yang sangat tajam antara kaum atas dan kaum bawah. Ketika kaum atas berpesta pora menikmati hidangan dan alunan musik orkestra*, kaum bawah yang teramat bawah –buruh- berjuang hidup dan mati di bagian paling bawah kapal. Mereka bekerja menyalakan mesin kapal dengan panas-panasan karena dekat bara api, nuansanya oranye dan gelap, tempatnya pengap dan sesak, kulit mereka coklat kepanasan dan mukanya gak beraturan. Dan, mati duluan.

*bahkan sampe kapalnya mau tenggelam, grup orkestra tersebut masih tetep mainin musik.

Ingat ketika kapal menabrak bongkahan es? Bagian bawah kapal jebol, dan tenggelam duluan. Siapa yang mati duluan? Buruh. Ingat saat para buruh berusaha menyelamatkan diri? Ada seorang buruh yang akhirnya mati karena pintunya keburu tertutup. Itu semua semata hanya agar kapal mewah itu bisa berjalan dengan baik demi memenuhi arogansi Mr. Ismay (si empunya kapal). Ingat Mr. Ismay? Itu lho, yang kumisnya tebel dan rambutnya klimis. Si pecundang yang saat kapal mau tenggelam, ia naik sekoci, menyerobot orang lain dan nggak ada usaha bantuin orang lain agar selamat. Yang penting dia sendiri selamat. Mbuh wong lione urip po ora, slamet po ora.

TITANIC dalam perspektif Marxisme. Wih, berat banget judulnya. Kayak badannya Tina Toon waktu kecil. Papa, Bolo-bolo. Mama, Bolo-bolo. Tapi sekarang Tina Toon udah diet abis-abisan dan jadi lumayan cantik. Ya kira-kira begitu analoginya. Krik krik. Tulisan ini dibuat bukan untuk tugas mata kuliah, apalagi untuk kepentingan akademik. Jadi, para dosen, atau mahasiswa yang sok akademis, minggir dulu ya.

Tulisan ini untuk rakyat jelata, agar sadar bahwa kapitalisme berdampak sedemikian rupa. Kapitalisme membuat kelas dalam masyarakat. Kapitalisme memisahkan buruh dari alat produksi. Kapitalisme membuat ketimpangan sosial. Kapitalisme membuat pemabgian kelas antara pemodal dan buruh paling melarat (proletar). Tidak hanya kapitalisme, dalam film TITANIC (ciye, akhirnya serius) juga nampak kuatnya feodalisme. Dalam hal ini, feodalisme Inggris. Feodalisme yang diakibatkan dari sistem kerajaan membuat hubungan Gusti – Kawula. Tuan – Hamba. Dalam hal ini, bangsawan dan rakyat jelata.

TITANIC berhasil membuat kita tersadar, bahwa (serius banget boss, bacanya) kalau nonton film, jangan cuma karena serunya bokep aja. Tapi juga harus menganalisa dengan cermat. dan poin terakhir dalam tulisan ini, jangan serius-serius amat.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

SURAT CINTA UNTUK PRESIDEN JOKO WIDODO “PAK JOK, SINI EYUK ({})”

Untuk Bapak Presiden.

Dari: Aslama Nanda Rizal, seorang Buruh Ilmu yang bekerja di jurusan Sejarah UGM

Halo, pak Jokowi. Apa kabar? Semoga selalu sehat wal afiat dan dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa. Pak Jok, ciye udah setahun ya bapak bersama Pak JK memimpin negara kita. Gimana rasanya, pak? Menyenangkan? Meletihkan? Atau justru menyedihkan? Bagaimanapun itu, saya harap bapak tetap tersenyum walau banyak hantaman menerpa. Senyummu lho, pak. Marai kangen. Mohon maaf sebelumnya.

Begini lho, pak. Saya diminta menulis surat cinta untuk Pak Jokowi oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Ehem. UGM lho, pak. Kita satu almamater. Saya juniormu, Pak. Walaupun beda fakultas. Tapi gapapa. Saya bangga alumni UGM jadi Presiden. Karena ini surat cinta, maka saya tidak menggunakan bahasa yang formal. Saya pake bahasa sehari-hari saja, yang merakyat. Toh, bapak kan lahir dari rakyat. Murni orang sipil (baca: tukang kayu) yang ketiban duren runtuh menjadi Presiden. Katanya, bapak kan merakyat. Saya gak mau menghina bapak kok. Jangan kenain saya pasal penghinaan Presiden ya, pak.

Saya ingat sekali, setahun yang lalu. Saat masa-masa kampanye Pilpres. Saya pendukung bapak. Saya selalu bangga-banggakan Pak Jokowi. Sebab, saya barisan BENTO (Benci Suharto). Saya gak mau Prabowo unsur Orde Baru jadi Presiden. Maka saya pilih bapak. Sekarang, maafin saya ya, Pak. Saya suka demo. Saya suka teriak-teriak menghakimi bapak. Saya memang memilih bapak. Tapi saya bukan seorang loyalis, apalagi fanatis. Saya punya ekspektasi besar sama bapak, setahun lalu. Sekarang, saya masih mencintai bapak kok. Walau kadang memaki. Maafin saya, pak. Saya hanya frustasi dengan kondisi bangsa kita saat ini.

Saya sadar betul, bapak bukan raja apalagi Tuhan yang bisa mengubah keblingeran kehidupan saat ini semudah postingannya Jonru di Pesbuk. Butuh proses panjang. Tapi, rakyat laper. Rakyat makin sengsara e, pak. Gimana dong? Sementara si pemilik modal, makin gendut. Makin kenyang. Saya tau banget, bapak terjebak oleh sistem. Bapak memang Presiden, tapi bapak gak punya kuasa lebih untuk mengubah keblingeran itu. Bapak terjebak sama lingkaran orang-orang sekitar bapak yang sama keblingernya (apa kabar Ibu Suri, pak? Masih jadi Ketua Umum ya? Hmm. Sudah kuduga). Jadi, yaudah saya doain bapak aja.

Pak, waktu bapak kampanye, bapak mendengung-dengungkan sebuah konsep janji politik. Ya. Nawacita. Apa sih itu, pak? Saya taunya Cita Citata, pak. Btw, bapak udah goyang dumang belum hari ini? Bohong lagu itu, pak. Katanya kalo goyang dumang, semua masalah jadi hilang. Masalah saya kok malah nambah sih, pak? Saya setel lagu itu keras-keras tengah malem, eh malah diomelin ibu kos. Katanya berisik. Padahal mah karena saya belum bayar uang listrik.

Nawacita. Keren ya namanya, pak. Siapa yang bikin tuh? Ini serius. Sedikit meniru gayanya Bung Karno. Iyalah, partainya pak Jokowi partai Banteng. Bantengnya beda sama Banteng Bung Karno. Banteng Marhaen nengoknya ke kiri. Tanda sebagai kaum kiri, Progresif-Revolusioner. Ada asapnya pula keluar dari hidung. Garang banget. Ya memang partai Banteng sejati. Beda sama Banteng anaknya, nengoknya ke tengah. Badannya di kanan. Hmmm. Sudah kuduga. Dulu, Bung Karno pidato ketika bertanggungjawab atas kasus G 30 S PKI. Judulnya, Nawaksara. Kok nyama-nyamain pake nama “Nawa” sih, pak?

Oke, pak. Karena penasaran, saya searching aja apa sih itu Nawacita? Gimana sih konsepnya? Apa saja isinya? Saya Cuma mahasiswa cupu, pak. Gak tau apa-apa. Cuma taunya Persib kemarin juara Piala Presiden 2015. Eh, ada bapak ya di sana ikutan nonton? Wah iya. Saya liat lho. Bapak pake jaket terus lengan jaketnya dinaikkin setengah lengan gitu. Lucu, ih. Culun-culunnya bapak, kayak ada manis-manisnya gitu. Btw, salon langganan bapak dimana sih? Eh, maaf. Tukang cukur. Potongan rambut bapak dari dulu gitu gitu aja. Pendek dan disisir belah pinggir. Kayak potongan rambut saya waktu SD. Disisirin mamah, tiap pagi. Sambil nonton Spongebob dan suka ngambek kalau telat karena kelamaan nonton.

Pak, jangan becanda mulu ah. Saya beneran lho, tapi gak serius. Soalnya serius udah bubar. Saya pun kecewa karena vokalisnya –es cendol eh candil- ternyata rambutnya itu palsu. Make wig. Yailah, apasih di dunia ini sekarang yang gak palsu? Kirain Cuma ada alamat palsu. Ya, yang dinyanyiin Ayu Tingting itu. Padahal sekarang udah gak tingting, ada punya anak. Ting-tong. Hmmmmm. Gini, gini lho, pak. Setelah saya searching, ternyata banyak ya Nawacita itu. Iyalah, ada sembilan poinnya. Saya kritisi satu poin aja ya, pak. Gapapa kan? Otak saya belum sampe buat kritisi semuanya. Maklum, kuliah aja masih sering tidur di kelas. Kok sok-sok’an mau kritik.

Poin yang terakhir, nomer sembilan “Kami akan memperteguh Kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia, melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga”. Hmmmm. Gini lho, pak. Katanya memperteguh kebhinnekaan, tapi kok kelompok-kelompok anti-kemajemukan bertopeng agama masih banyak, pak? Bahkan organisasi yang ingin membubarkan NKRI dan Pancasilanya jadi satu negara dunia, Khilaf ah, semakin marak? Kok bapak diem aja? Kok pak Luhut diem aja? Kok jenderal Ryamizard diem aja? Oh iya, dia kan pak Menhan.

Masih anget, tiup gih biar cepet dingin. Dia ngeluarin kebijakan yang super sekali. Bela Negara. Bagus sih, tapi kenapa selalu PKI yang dicap makar terhadap negara? Kenapa komunis yang selalu dianggap anti-pancasila. Itu lho, pak. Kaum Hitam-Putih yang cingkrang-cingkrang berjenggot lebat sama yang suka pake cadar dan baju gombrang. Sering demo, bawa-bawa bendera hitam dan bendera putih tulisan syahadat itu. Itu jelas-jelas anti-NKRI. Anti-Pancasila. Mereka lho yang harusnya disuruh wajib bela negara. Bukan kita, apalagi rakyat kecil. mereka bertani aja udah bela negara, mereka cari nafkah untuk keluarganya juga udah bela negara. Eh malah digebukin tentara, kayak kasus petani di Urut Sewu, Kebumen, Jawa Tengah. Iya, iya. Yang Gubernurnya rambutnya diwarnain putih semua itu, biar gaul gitu lho.

Bhinneka, pak? Konflik atas nama agama makin marak. Di Papua, dan lain-lain yang belum terekspos. Yang terbaru, di Aceh Singkil. Alasan gereja dibongkar katanya gak punya izin. Mau ibadah aja kok izin sih, pak? Masjid-mesjid Syiah dan Ahmadiyah juga masih pada digembok, alias gak boleh dibangun. Lah, pak piye? Baru aja Pak Jokowi ngeluarin kebijakan paket ekonomi tahap 1,2,3 dan seterusnya kayak sinetron Cinta Fitri. Yang tahap 2 saya inget, tujuannya memudahkan investasi. Izinnya Cuma 3 jam. Izin membangun perusahaan juga semakin mudah. Di Jogja aja misalnya, wih hotel dan apartemen makin banyak. Sama banyaknya juga yang temen makan temen. Tapi ini kok, mau ibadah aja sulit banget sih, pak? Ribet. Harus ada persetujuan dulu. Lah di Rembang aja warganya gak setuju ada pabrik Semen PT SEMEN INDONESIA, kok malah menang di pengadilan? Karena uang ya, pak? Hmmmm. Sudah kuduga.

Saya gak bakalan kritik banyak-banyak dan panjang-panjang. Ilmu saya belum sampe. Belum tinggi seperti Kyai Haji Al-Mukarombeng, Jonru. Saya ngefans banget sama beliau, pak. Ustadz, kyai, syekh, dan sufi masa kini. Baca kitabnya (akun pesbuk: Jonru), wuih luar biasa. Banyak fatwa bertebaran dari mulut sucinya. Yang kayak begitu sesuai kan pak dengan Nawa Cita nomor sembilan, menjaga kebhinnekaan?

Oh iya, maaf ya pak. Saya tau bapak capek. Bapak pusing mikirin Ibu Irina, eh Pertiwi. Bapak baru setahun menjabat saja, sudah banyak dicaci. Ya Allah, pak. Sabar ya. Abis bapak gak ada sangar-sangarnya sih. Imut banget, saya suka saya suka. Eh, pak. Tadi kan saya udah cerita saya liat bapak pas Persib juara Piala Presiden 2015. Bapak nonton bareng Ahok sama Ridwan Kamil. Saya perhatiin bapak lho. Saya liat-liat kok kantung mata bapak makin tebal? Kantung celana saya sih makin robek, pak. Apalagi dompet saya, kosong. Gak ada isinya, akhir bulan. Muka bapak lemes gitu. Lusuh, kusam, gak bergairah. Tapi bapak mencoba menutupinya dengan selalu senyum dan melambaikan tangan ke arah penonton lain. Khas bapak menyambut rakyat.

Saya kan udah bilang, pak. Senyumanmu lho. Marai kangen. Bapak capek ya? Sama, saya juga capek kuliah. Mau nikah aja. Hm. Yaudah deh, pak. Saya cuma bisa doain, semoga bapak tetap semangat memimpin bangsa dan negara ini. Semangat kakaaaaak!

Pak Jok, sini eyuk ({})

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

EKONOMI ASLAMISME

ASLAMA NANDA RIZAL

13 / 351861 / SA / 17155

Terlalu tergesa-gesa jika membuat suatu konsep pemikiran baru yang segar dan berbeda dari berbagai konsep pemikiran yang telah ada, dalam tempo seminggu atau dua minggu atau bahkan setahun, untuk membuat konsep pemikiran baru. Menurut saya, konsep pemikiran tidak sesederhana itu. Maka, izinkanlah saya untuk mengkritisi tugas yang Dr. Sri Margana berikan pada mata kuliah Metodologi ini. Walaupun saya paham maksudnya agar sebagai mahasiswa bisa berpikir sendiri, berfilsafat sendiri, setelah banyak menelan berbagai pemikiran orang lain. Namun, saya tetap mengapresiasi tugas ini sebab menjadi pemantik agar kita lebih bisa berpikir keras. Untuk tugas kali ini, saya hanya akan menulis tentang ekonomi menurut pemikiran saya. Itupun masih jauh dari sempurna. Mengenai politik, sosial, budaya, agama, dan lain-lain akan dibahas di kemudian hari. Sebab berpikir mengenai hal tersebut memerlukan proses yang panjang.

Sebelumnya saya telah memikirkan ini, namun belum begitu mendalam. Saya tertarik untuk membuat konsep pemikiran sendiri yakni Aslamisme. Untuk saat ini mungkin adalah campuran dari berbagai pemikiran atau ideologi. Saya pribadi sangat dipengaruhi oleh Marhaenisme ajaran Bung Karno. Hampir dalam seluruh pemikiran saya selalu berkiblat pada Marhaenisme. Selain itu, saya juga terpengaruh oleh Marxisme sebagai awal dari kekaguman saya terhadap Marhaenisme. Sebab Bung Karno pernah berkata bahwa siapa yang mempelajari Marhaenisme harus mempelajari Marxisme terlebih dahulu. Marxisme ini luas dan banyak dipahami dengan berbeda oleh para penganutnya. Setidaknya yang saya pahami ada beberapa varian dalam Marxisme. Seperti Leninisme yang mempraktikkan Marxisme secara politik dengan menggagas ideologi Komunisme. Stalinisme yang melanjutkan Leninisme dengan gaya berbeda. Trotskyisme dengan penentangannya terhadap Stalinisme perihal cara perjuangan dan konsep Revolusinya. Maoisme yang mempraktikkan Komunisme (Marxisme-Leninisme) dengan citarasa Tiongkok. Ho Chi Minh dengan citarasa Vietnam. Kim Il Sung dengan citarasa Korea Utaranya. Fidel Castro dan Hugo Chavez dengan citarasa Kuba dan Amerika Latinnya. Tan Malaka dengan kecondongannya pada Trotskyisme.

Khusus Tan Malaka ini menarik. Sebab ia digolongkan menjadi Komunis-Nasionalis. Ia juga terpengaruh dengan Pan – Islamisme yang ingin menyatukan umat Islam sedunia. Saya pernah berdiskusi dengan salah satu kelompok Komunis bawah tanah. Mereka menyatakan bahwa Tan Malaka adalah seorang Nasionalis. Bukan Komunis. Ada benarnya sebab jauh sebelum Bung Karno dan lain-lain sepakat dengan konsep Negara Republik Indonesia, Tan Malaka telah membuat konsep bahwa negara Hindia-Belanda jika merdeka kelak harus berbentuk Republik. Konkritnya, Republik Indonesia. Walaupun ia menyatakan diri sebagai Komunis, namun saya pribadi lebih condong menyebutnya Nasionalis. Pemikiran saya juga dipengaruhi oleh pemikiran Tan Malaka.

Dalam keagamaan, pemikiran saya sangat terpengaruh oleh Muhammadiyah. Tentunya, Muhammadiyah yang saya anggap asli, yakni versi K.H. Ahmad Dahlan. Ia memperjuangkan agar umat Islam menjadi modern dalam pemikiran dan memberantas kebekuan pemikiran umat Islam. Kekolotan pemikiran Islam menurut saya kini masih terjadi. K.H. Ahmad Dahlan radikal dalam pemikiran, namun moderat dalam berdakwah. Ia tidak lantas mencap individu atau sekelompok Islam yang berbeda dengan sebutan Kafir dan sebagainya. Ia masih menerima aspek-aspek kultural dalam keagamaan. Muhammadiyah awal menurut saya luar biasa. Bertujuan untuk memberantas Takhayul, Bid’ah, dan Churafat (TBC). Namun tidak seradikal kaum Wahabi yang siap menggunakan kekerasan atau paling tidak “cap kafir” dalam dakwahnya. Muhammadiyah versi K.H. Ahmad Dahlan tetap santun dan toleran. Mengapa saya sebut dengan Muhammadiyah versi K.H. Ahmad Dahlan? Sebab setelah ia wafat, Muhammadiyah semakin menyebar ke penjuru Indonesia dan mengalami pergeseran makna serta cara dalam dakwahnya. Muhammadiyah Yogyakarta dengan Muhammadiyah Minangkabau misalnya, menurut saya berbeda. Masyarakat Minangkabau yang sebelumnya telah terpengaruh dengan Wahabisme, lebih radikal dan militan dibanding dengan Yogyakarta.

Saya juga terpengaruh oleh pemikiran Haji  Misbach, seorang Ulama yang Komunis. Ia mencampurkan Islam dengan Komunisme menjadi Islam yang Progresif-Revolusioner. Ia banyak dihujat sebab mencampuradukkan Islam dengan ajaran yang dianggap Atheis. Namun Haji Misbach pernah berkata yang kira-kira demikian, bahwa Umat Islam yang membenci Komunisme berarti tidak mengerti sepenuhnya dengan hal tersebut dan dengan perjuangan melawan Kapitalisme, Kolonialisme dan Imperialisme. Umat Islam yang demikian belumlah menjadi Umat Islam yang sempurna. Begitu juga dengan kaum Komunis yang membenci Islam berarti belum memahami Islam secara Kaffah, secara sempurna. Sebab Islam adalah ajaran yang Progresif-Revolusioner dan melawan penindasan.

Menurut saya, kesemua itu telah termaktub dalam Marhaenisme ajaran Bung Karno secara Ideologi dan Islam secara agama. Maksudnya, secara Ideologi, pemikiran-pemikiran tersebut telah berhasil dirangkum Bung Karno dan membuat konsep Marhaenisme. Dalam Marhaenisme terbagi tiga unsur yakni Sosio – Nasionalisme (Nasionalisme yang bertujuan untuk keadilan sosial). Lalu Sosio – Demokrasi (Demokrasi yang bukan saja secara politik, namun juga secara ekonomi), dan Ketuhanan yang Berkebudayaan. Seluruhnya adalah hasil dari koreksi atas berbagai pemikiran, ideology, dan agama di dunia yang telah Bung Karno pelajari dengan baik dan menghasilkan pemikiran yang relevan untuk Indonesia.

Singkatnya, pemikiran Bung Karno mirip dengan Sun Yat Sen (Bapak Republik Tiongkok / kini Taiwan) yakni Nasionalisme, Sosialisme, dan Demokrasi. Namun ala Indonesia. Bukan Nasionalisme dan Demokrasi ala Barat. Bukan pula Sosialisme ala Lenin yakni Komunisme. Namun secara sempurna yakni Marhaenisme. Untuk itulah saya pribadi bingung jika harus membuat konsep baru yang lebih segar dari Marhaenisme. Ibaratnya, Umat Muslim akan kebingungan jika harus membuat konsep agama yang baru. Sebab menurut Umat Muslim, Islam adalah agama yang sempurna dan menjadi penyempurna dari agama-agama sebelumnya.

Aslamisme menurut saya adalah proyek masa depan. Saya harus membaca lebih banyak pemikiran lagi dan membandingkan seluruh pemikiran tersebut dan menganalisa serta mempelajari Indonesia lebih dalam lagi. Hal tersebut bertujuan agar Aslamisme tidak hanya menjadi copy-paste dari berbagai pemikiran yang telah ada. Namun menjadi konsep pemikiran yang baru dan segar untuk kemajuan dan kesejahteraan lahir dan batin rakyat Indonesia. Aslamisme mungkin nama yang terlalu narsis jika saya pribadi yang mendeklarasikannya. Seperti Marxisme, Leninisme, Stalinisme, Trotskyisme, Soekarnoisme, dan lain-lain, bukan pribadinya yang deklarasi. Namun yang menyebut adalah para penganutnya atau ilmuwan-ilmuwan lain untuk menamakan konsep pemikiran mereka. Tidak mengapa, mungkin kelak jika saya telah wafat oleh para penerus saya akan dinamakan demikian. Aslamisme. Sebenarnya, Aslamisme bukan semata karena nama panggilan saya adalah Aslam. Namun Aslam menurut saya adalah nama yang bermakna luar biasa. Saya berterimakasih sekali kepada orangtua saya yang menamai saya Aslama. Tanpa bermaksud membanggakan diri sendiri dan menjadi arogan.

Pada tulisan ini saya akan membedah Aslamisme tahap awal. Maksudnya adalah Aslamisme yang dipikirkan dan dibuat secara sederhana. Setelah ini, Aslamisme akan terus dikoreksi dan direvisi untuk menjadi tawaran dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa Indonesia. Saya paham bahwa pemikiran saya akan banyak dikritik. Sebab Gus Dur yang pemikirannya dianut banyak pengikut pun, tak pernah menamakannya dengan Gus Durisme. Atau kini beberapa Budayawan nyentrik seperti Sudjiwo Tedjo tidak menamakan pemikirannya atau dinamakan dengan Tedjoisme.

Aslam berasal dari bahasa Arab yang memiliki banyak makna. Aslam adalah kata dasar Islam. Aslama – Yuslimu – Islaman. Aslam bisa berarti berserah diri, patuh, tunduk, taat, sejahtera, dan selamat. Aslamisme secara singkat berarti berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan patuh kepada amanat penderitaan rakyat, tunduk pada Revolusi, taat pada ajaran Tuhan yang bertujuan menyelamatkan Marhaen atau rakyat miskin tertindas, demi mewujudkan Sosialisme Indonesia yang membawa Marhaen kepada keselamatan dan pembebasan dari belenggu Feodalisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Imperialisme. Aslamisme radikal dan militan dalam perjuangan menentang penindasan sebagaimana kaum Marxis. Mencintai bangsa dan negara dan perjuangannya untuk rakyat Indonesia sebagaimana kaum Nasionalis. Dan memiliki konsep keagamaan yang toleran dan tidak saling menindas atas nama Tuhan sebagaimana ajaran agama yang hakiki.

EKONOMI ASLAMISME

Pandangan ekonomi dalam Aslamisme mirip dengan Marhaenisme. Bertujuan untuk BERDIKARI (Berdiri Diatas Kaki Sendiri). Mirip dengan Marxisme dengan pemerataan ekonomi bagi seluruh rakyat. Namun bukan berarti “sama rata sama rasa”, namun “sama rasa sama bahagia”. Walaupun mirip seperti Marhaenisme, namun secara jiwa, Aslamisme lebih condong pada Marxisme. Penganut Marhaenisme yang merupakan kaum Nasionalis kubu Bung Karno mungkin tidak akan seradikal paham yang saya gagas ini. Saya pernah dikritik sebab terlalu dekat dengan Marxisme, bahkan ada yang menuding saya sebenarnya Komunis, bukan Marhaenis. Namun dengan tulisan ini, saya ingin menjawab bahwa saya adalah “Marhaenis Radikal”. Tetap Nasionalis, namun bukan Komunis.

Marhaenisme telah menjawab perihal ekonomi dengan konsep Sosio – Demokrasi, yang tidak hanya demokrasi politik, namun juga sosial dan ekonomi rakyat Indonesia. Namun dalam praktiknya, Sosio – Demokrasi belum terwujud secara nyata. Masa Demokrasi Terpimpin, Bung Karno telah mencoba mempraktikkan ini dengan gagasan BERDIKARI dan dengan MANIPOL / USDEK (Manifesti Politik / Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kebudayaan Nasional). Mengenai perekonomian, Bung Karno belum mewujudkan secara nyata dengan program-program konkritnya. Lebih mengedepankan jargon. Malah pada masa tersebut, perekonomian Indonesia semakin anjlok hingga membuat demonstrasi mahasiswa besar-besaran pasca Gerakan Satu Oktober (GESTOK). Hingga kini, saya belum menemukan bentuk konkrit dari konsep ekonomi dalam Marhaenisme. Sebab Bung Karno sendiri menurut saya gagal mempraktikkannya. Aslamisme inilah yang ingin mewujudkan hal tersebut dengan tidak hanya melalui jargon atau retorika semata. Terlalu dini memang merumuskannya sebab saya pribadi belum mendalami ekonomi. Saya akan senang hati menerima kritik bahkan caci maki pada pemikiran saya ini, tidak masalah. Itu merupakan resiko yang harus diterima. Sebab seluruh pemikiran, pasti ada yang mengkritisinya. Saya pun paham, tidak mudah agar konsep pemikiran ini mendunia seperti Marxisme, atau meng-indonesia seperti Marhaenisme Bung Karno.

Dalam Aslamisme, negara bertanggung jawab penuh atas perekonomian rakyat Indonesia. Tujuan akhirnya adalah tidak ada lagi perusahaan asing di Indonesia. juga tidak ada lagi perusahaan dalam negeri yang dimiliki mutlak secara pribadi. Mirip seperti Komunisme, hanya lebih moderat. Namun tidak “lembek” seperti Sosial – Demokrat yang borjuistis. Jika dalam Komunisme menolak kepemilikan pribadi, Aslamisme masih mengakui kepemilikan pribadi. Namun harus dibatasi secara tegas oleh pemerintah. Negara bertanggung jawab secara penuh untuk melakukan Nasionalisasi aset seluruh perusahaan dalam negeri maupun asing di Indonesia. Contoh kecil dalam Aslamisme, jika kamu memiliki sebungkus rokok, maka kamu harus membagikannya kepada teman-temanmu. Untukmu hanya boleh 3-4 batang saja. Itu adalah batas toleransi terhadap kepemilikan pribadi dalam Aslamisme. Jika ingin jiwa Sosialisme lebih terasa, maka kamu dan teman-temanmu wajib urunan untuk membeli sebungkus rokok tersebut. Tujuan perekonomian dalam Aslamisme bukan “sama rata sama rasa”, namun “sama rasa sama bahagia”. Tujuan berikutnya dalam Aslamisme mengenai perekonomian Indonesia adalah agar tidak ada lagi “Bakrie”, “Hary Tanoe”, “Hasyim Djojohadikusumo”, “Jusuf Kalla” dan lain-lain yang menjadi konglomerat di Indonesia.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Aslamisme memegang teguh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dikelola secara independen tanpa campur tangan pengusaha. Seluruh kebutuhan rakyat, berada dalam naungan BUMN. Perusahaan kelompok atau individu pun harus berada dalam genggaman BUMN. Perusahaan hanya berhak mengambil keuntungan maksimal 20%. Sisanya menjadi milik negara dan digunakan untuk kesejahteraan Marhaen. BUMN harus memproduksi teknologi sendiri. Sehingga akhirnya, alat-alat elektronik, transportasi, dan teknologi lainya BUMN yang memproduksi. Akhirnya teknologi dibuat oleh rakyat dan hasilnya untuk rakyat Indonesia sendiri. Tidak akan ada lagi Samsung, Lenovo, Asus, Honda, Yamaha, dan lain-lain. Adanya merk Indonesia yang itu buatan bangsa kita sendiri. Untuk zaman kini, gagasan tersebut Utopis. Namun, Aslamisme berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya.

Diperlukan banyak tahap untuk mewujudkan hal tersebut. Sembari menyusun kekuatan untuk BERDIKARI, negara harus menerapkan pajak yang tinggi kepada perusahaan. Keuntungan pun dibagi secara jelas, 20% untuk perusahaan dan sisanya untuk negara. Demi mewujudkan teknologi Indonesia yang luar biasa, negara harus menganggarkan lebih banyak untuk riset dan teknologi. Negara juga bertanggungjawab penuh untuk melenyapkan komersialisasi pendidikan. Tidak boleh ada campur tangan perusahaan dalam penyelangaraan pendidikan. Sebab, kini komersialisasi pendidikan merajalela. Pendidikan hanya dijadikan alat untuk bekerja pada perusahaan. Sehingga, kini menjadi pelajar atau mahasiswa, untuk menjadi buruh di kemudian hari. Pola pikir “mau kerja apa setelah lulus? mau kerja di perusahaan mana nanti?” harus dihilangkan. Tentunya, dengan Revolusi Mental yang konkrit dengan berjiwa Aslamisme.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

LAGU “PERGI PAGI PULANG PAGI” REALITA MARHAEN DALAM CENGKERAMAN KAPITALISME & IMPERIALISME

maxresdefault

Ku rela, pergi. Pagi, pulang pagi. Hanya untuk, mengais rezeki. Doakan, saja. Aku, pergi. Semoga pulang, dompetku terisi.

(Armada – Pergi Pagi Pulang Pagi)

Lagu ini adalah karya salah satu grup musik asal Sumatera, Armada, dengan judul yang menggelitik. Ya. Pergi pagi, pulang pagi. Sedikit curhat, awalnya saya memandang lagu ini sebelah mata. Armada memang kerap membuat lagu yang mendayu-dayu dan “cengeng”. Tak ayal, grup musik ini kadang dicibir sebagai grup musik “kampungan”. Seperti Kangen Band, ST 12, atau Hijau Daun pada beberapa tahun lalu. Apalagi suara vokalisnya, Rizal, sangat bernuansa melayu. Cengkoknya saya akui bagus. Tepat jika ia menyanyi lagu melayu. Namun jika menyanyi lagu pop, apalagi lagu cinta-cintaan, menjadi kemayu.

Salah satu teman saya ada yang sering mendengarkan lagu ini. Favorit katanya. Menggambarkan kehidupan rakyat. Awalnya, saya hanya tersenyum. Namun, kemudian saya penasaran. Saya dengarkan sekali. Enak juga. Awalnya hanya menikmati lagunya, sekedar mendengarkan. Namun, di suatu malam saya menyendiri hanya ditemani secangkir kopi. Saya dengarkan lagu ini terus menerus. Saya teliti seluruh liriknya. Saya hayati dan resapi. Ternyata, saya acungi jempol untuk Armada untuk karyanya kali ini. Tidak seperti karyanya yang berjudul “Buka Hatimu”, atau “Mau Dibawa Kemana”. Menggambarkan lelaki yang lemah di hadapan wanita.

Liriknya sederhana, sangat sederhana. Menceritakan sosok suami yang pergi bekerja dari pagi hingga pulang pagi lagi untuk “mengais” rezeki. Demi istri dan keluarga tercinta. Lagu ini menarik untuk dikupas habis mulai dari musik, lirik lagu, hingga cerita dalam video clip-nya.

Musik

Seperti lagu-lagu Armada lainnya, musik yang diusung selalu bernuansa melayu. Walau beraliran / genre pop. Namun bisa dibilang, musiknya sangat melayu. Lebih tepat pop-melayu. Khusus di lagu “Pergi Pagi Pulang Pagi”, gebukan drum dan temponya sangat kental bernuansa melayu. Suara khas dari Rizal, Vokalis Armada, mendayu-dayu. Cengkoknya pas. Lagu ini juga enak didengar dengan berbagai versi. Seperti biasa, para penyanyi dangdut kerap meng-cover lagu-lagu pop. Khususnya pop-melayu. Sebab memang ada kedekatan nuansa dalam kedua aliran musik tersebut. Penyanyi Campursari kawakan, Didi Kempot, juga pernah membawakan lagu ini dengan nuansa Jawa. Campursari. Liriknya pun diubah ke dalam bahasa Jawa. Enak juga mendengarnya. Saya menontonnya di Youtube, pada acara “Bukan Empat Mata”. Saya bukan kritikus musik. Hanya penikmat biasa. Demikian yang bisa saya bahas mengenai musik dalam lagu tersebut.

Lirik Lagu

Lagu ini diawali dengan pernyataan kesungguhan untuk yang tercinta. Apapun rintangannya, demi yang dicinta, akan ditempuh. Panas hujan begini, makanan sehari-hari, adalah penekanan untuk meyakinkan yang tercinta. Lirik tersebut menurut saya yang paling sering dialami para Marhaen. Ya. para Marhaen terbiasa dengan suasana seperti ini. Kita bisa lihat misalnya para gelandangan di pinggir jalan, tukang parkir, dan lain-lain. Para petani rela berkotor-kotor, nelayan rela bertaruh nyawa di tengah lautan ganas, semua demi yang dicintainya. Lirik yang digunakan dalam lagu ini sangat sederhana. Bahasanya mudah dipahami masyarakat. Entah disadari atau tidak, bahkan oleh Armada sendiri, lirik lagu ini bisa dianggap sebagai kritik sosial.

Cerita dalam Video Clip

Video Clip dalam lagu ini menggambarkan tentang sosok seorang ayah yang berjuang demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ada tukang sapu jalanan, supir taksi, dan juga Satpam (satuan pengamanan). Ditampilkan juga scene supir taksi yang sedang menghitung uang, tiba-tiba uangnya terbang dan susah payah untuk dikejar. Terlihat betapa berharganya uang Rp. 50.000,- bagi kaum Marhaen. Tidak bagi para Borjuis dan para Kapitalis yang senang menghamburkan uang, yang memiliki modal melimpah dan terus berputar. Rp. 50.000,- bagi mereka kecil. Namun bagi kaum Marhaen, uang bernilai demikian adalah besar.

Nampak juga seorang anak kecil yang membaca poster konser Armada, seakan berharap ingin menonton bersama ayah dan ibunya, juga terdapat istri yang menunggu di rumah dengan wajah resah. Menariknya, Armada seolah memberikan kesempatan kepada tokoh istri dalam lagu tersebut untuk berbicara. Aku rela, ditinggal. Pagi, pulang pagi. Karena kamu mencari rezeki. Itu adalah pernyataan kerelaan hati seorang istri yang bersabar menunggu suaminya pulang.

Dalam video tersebut juga ditampilkan Armada tampil menghibur masyarakat dengan lagu ini. Seperti “Band Kampung” lainnya, musik Armada yang easy listening ini memang mudah diterima masyarakat Indonesia. dalam video tersebut terlihat masyarakat berkumpul dan bergoyang bersama. Ya. seperti itulah rakyat kecil Indonesia, kaum Marhaen. Hiburan seperti penampilan “Band Kampung” atau “Dangdutan” seolah menjadi pelipur lara sejenak. Bak obat bius. Mematikan penderitaan sementara. Marhaen bisa bergoyang bersama, bisa terhibur seolah tiada masalah. Padahal mereka dilanda kesengsaraan akibat cengkeraman Kapitalisme & Imperliasme. Di akhir video tersebut digambarkan betapa bahagianya saat suami pulang menemui istrinya setelah lelah bekerja dan membawa uang.

Realita Marhaen Dalam Cengkeraman Kapitalisme & Imperialisme

Lagu ini adalah representasi kehidupan kaum Marhaen. Mereka hidup dalam cengkeraman Kapitalisme & Imperialisme, baik nasional maupun global (internasional). Seperti yang dijelaskan sebelumnya, mungkin Armada tidak sadar bahwa karya mereka ini adalah kritik sosial. Lagu ini menggambarkan kehidupan masyarakat yang Money Oriented. Kebahagiaan diukur dengan uang. Kita pasti menolak hal ini. Biasanya kita menganggap kebahagiaan adalah lebih dari sekedar uang. Uang tidak bisa membeli segalanya.

Memang benar. Namun yang digambarkan dalam lagu ini adalah realita. Memang bahagia tidak bisa diukur dengan uang. Namun kita kini hidup di alam Kapitalisme & Imperialisme. Kedua sistem tersebut merampas makna dari kebahagiaan. Di zaman seperti ini, jika tidak memiliki uang bagaimana bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari diri sendiri dan keluarga? Pasal 33 dalam UUD 1945 dengan tegas menyatakan bahwa sumber daya alam dikuasai negara dan diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat, tidak bisa diwujudkan oleh para pemimpin negeri ini. Sebab kepentingan pribadi diutamakan. Banyak sekali ekonom-ekonom Indonesia yang Neo-Lib. Antek-antek Neo-Liberal, yang menginginkan Kapitalisme & Imperialisme langgeng di Indonesia dengan dalih “kebebasan berusaha”.

Demi uang, apapun dilakukan. Ya. mencari rezeki halal memang kerap menyakitkan hati. Harus jujur dan tidak menipu serta tidak menindas orang lain kini adalah sebuah pengorbanan. Berbeda dengan para maling uang rakyat (baca: koruptor). Memanfaatkan kekuasaannya untuk memakmurkan keluarganya, namun mencuri uang rakyat. Begitu juga para bandar judi, para pebisnis narkoba, para mucikari, para pelacur, dan sebagainya yang menggadaikan imannya demi uang. Lagi-lagi soal perut. Mereka mendapat rezeki yang melimpah, namun haram. Dalam alam “kebebasan” seperti saat ini, halal-haram tak lagi perkara. Tuhan seakan dibius untuk tidur nyenyak agar tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Masa yang disebut Reformasi kini menurut saya hanyalah perpindahan dari Kapitalisme Terpusat (Orde Baru dan Kroninya), kepada para Kapitalis & Imperialis global. Demi alasan “Demokratisasi”, kita justru kebablasan. Suka atau tidak, itulah yang terjadi. Prof. Dawam Rahardjo, Rektor Universitas Proklamasi 1945 Yogyakarta, pernah bercerita dalam diskusi publik Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Yogyakarta di kampus tersebut. ia berkata bahwa ia kelabakan mempertahanakan Pasal 33 UUD 1945 yang berada dalam ancaman untuk diubah agar sesuai selera para ekonom Neo-Lib dan para Kapitalis.

Kembali ke topik utama, lagu ini menggambarkan ketidakberdayaan kaum Marhaen menghadapi kerasnya kehidupan. Terutama di kota-kota besar yang metro bahkan megapolitan. Di jalan-jalan kota-kota besar, terdapat kesenjangan sosial yang besar. Di tengah jalan, terdapat banyak mobil bergelimpangan. Sementara para Marhaen di pinggir jalan. Ada yang mengamen, mengemis, dan berjualan ala kadarnya speerti para pedagang asongan. Kapitalisme & Imperialisme menciptakan kesadaran palsu. Orang dihipnotis dengan kedua sistem tersebut. Membuat kebanyakan orang seperti biasa saja dengan kondisi demikian. Menganggap bahwa kesenjangan sosial tersebut seakan lumrah terjadi di kota-kota besar.

Tidak Hanya Suami

Walau lagu ini menggambarkan perjuangan seorang suami dan bapak terhadap keluarganya, namun jika dianalisa dari realita masyakarat sejatinya tidak hanya itu. Lagu ini juga bisa direpresentasikan lintas usia. Contohnya, para pengamen cilik jalanan. Juga tidak hanya suami. Anak-anak dan pemuda pun demikian. Contohnya, para pemulung. Mereka semua rela melakukan apapun demi menyambung hidup. Ya. hidup mereka tidak lebih dari sekedar bisa bertahan hidup dan mengenyangkan perut. Walau hanya sekali sehari, atau bahkan tak tentu. Hanya untuk, mengais rezeki. Pun, bagi para istri dan ibu. Banyak dari mereka yang juga bekerja membantu suaminya. Contohnya, pembantu rumah tangga. Baik di dalam maupun luar negeri (Tenaga Kerja Wanita / TKW).

Khusus TKW, banyak kasus penyiksaan yang mereka alami di luar negeri. Semua itu mereka hadapi demi keluarganya, khususnya demi anak-anaknya. Para TKW pun juga jarang pulang, bahkan tidak tahu kapan bisa pulang untuk menemui anaknya walau hanya sejenak. lebih dari “pergi pagi pulang pagi”. Mereka pergi dan tak tahu kapan kembali. Contoh berikutnya juga para pelacur (pekerja seks komersial). Hal ini memang kontroversial. Sebab banyak dari para pelacur yang sebenarnya mampu, tidak dalam kesulitan ekonomi. Namun demi harta dan gengsi, mereka gadaikan kehormatan mereka. Demi gaya hidup mewah. Walau banyak juga yang terpaksa menjadi pelacur karena kesulitan ekonomi.

Orang Kantoran Pun “Kena”

Ternyata jika dianalisa lagi, golongan menengah pun juga terkena singgung oleh lagu ini. Ya. para pekerja. Orang-orang “kantoran” juga. Mereka banyak yang lembur demi memenuhi kebutuhan perusahaan. Para pekerja memiliki waktu yang terbatas bersama keluarganya, demi lembur hanya untuk mengembangkan perusahaan tempat mereka bekerja.

Hanya Untuk Mengais Rezeki

Ini lirik yang paling mengena menurut saya. Sebab demi uang, manusia rela banting tulang. Bahkan jika sudah sukses, terkadang dimabukkepayang. Ya. lupa daratan. Demi “mengais rezeki” pula, manusia rela saling mencaci, memfitnah, mencuri, menyakiti hati, hingga membunuh. Benar kata Bung Karno, bahwa Kapitalisme & Imperialisme bukan bangsa. Bukan hanya “Londo”, bukan “Bule”. Namun Kapitalisme & Imperialisme adalah sistem yang menyangkut soal perut, soal perebutan rezeki.

Penutup, saya hanya ingin mengingatkan bahwa rezeki bukan hanya uang. Kesejahteraan tidak bisa diukur hanya dengan banyaknya uang. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan apapun. Namun yang harus diingat, di alam cengkeraman Kapitalisme & Imperialisme global ini, uang bisa menguasai segalanya.

Hanya ada satu kata, LAWAN!

MERDEKA!!!

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar